

Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu..
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..
Orang tua yg begitu sempurna..
Dengan cinta yg begitu membuncah..
Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan..
Saat Allah memilihmu dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..
Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..
Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..
Maka, ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.
Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..
Karena kelak kita akan satu..
Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,
Kau dan aku akan menjadi 'kita'..
Padamu yg Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,
Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..
Maka ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..
Itulah visi pernikahan kita..
Ibadah pada-Nya ta'ala..
Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..
Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..
Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..
Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..
Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..
Namun tatap mataku, tersenyumlah..
Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..
Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..
Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..
Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..
Maka dimataku kau adalah yang terindah,
Kata2mu adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..
Maka kalau kau berkenan ku meminta..
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…
Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..
Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..
Yang darahnya mengalir darah syuhada..
Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..
Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..
Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..
Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…
Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..
-----@***@-----
( Oleh Aztriana 180610/ 01'50 Makassar.. ^_^v )
Dari Ummu Salamah, ia berkata, "Rasulullah S.A.W bersabda : "Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad dan Thabrani)
Khamis, 23 Disember 2010
~Ketika Allah Memilihmu Untukku..~
Posted by ~Zukhruful Islam~ at 8:41 PTG 0 comments
~Apabila Mata Telah Tertutup~


Tabir malam dan siang silih ganti. Entah bila akan terhenti. Ataukah sebelum terhentinya pergiliran waktu tersebut, rupanya kita sendiri yang terlebih dahulu terhenti.
Hati tertanya, terhenti apakah itu?Pastinya terhenti daripada menikmati kenikmatan kehidupan. Terhenti daripada menambah amal atau harta, terhenti daripada mencipta ilusi demi ilusi kehidupan.
Hati bertanya lagi, akan segarkah pepohonan bahagia yang disemai.?Jika tidak, hati tertanya lagi,Baja ataukah racun yang ditabur pada pepohonan bahagia tersebut?Sehingga tiada kehijauan syurgawi. Tiada merasai ranumnya buah kasturi. Tiada terhidu wanginya haruman kasturi.
Sebaliknya…
Sebaliknya apa!!?? Gertak hati. Kaku. Seolah olah semakin mengerti. Rupanya pepohonan bahagia yang diharapkan rupanya pepohonan berduri derita. Rupanya, taburan baja bukanlah baja. Tetapi racun. Pohon tumbuh tetapi berpenyakit. Ah, tertipu sudah hati oleh kerana dunia. Lupa bahawa ilusi tetap ilusi. Barulah terasa pahitnya zaqqum dan hanyirnya darah. MasyaAllah. Kalam Allah mengingatkan hamba-Nya di dalam Surah Al-A’raf ayat 34 :
…apabila telah datang ajal mereka, sekali-kali mereka tidak dapat menunda atau menyegerakan walau sesaat pun. (Al-A’raf :34)
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya,,,(Qaf : 19)
Ilmu, Iman & Taqwa
Perangkap syaitan hanya boleh di atasi dengan kombinasi iman dan taqwa. Kehebatan syaitan di dalam merangka strategi menyesatkan manusia sangat ditakuti oleh ahli ibadah. Tetapi tidak bagi yang memiliki kombinasi iman dan taqwa. Iman dan taqwa didapati daripada ilmu. Maka ilmu yang disemai akan menghasilkan buah iman dan taqwa. Ahli Ibadah atau Abid ini di ibarat seorang pejuang mujahidin di medan perang yang sangat sengit dan mencabar tetapi berperang tanpa senjata. sebaliknya Ahli ilmu pula ibarat seorang pejuang mujahidin yang memiliki senjata iman dan taqwa.
Siapakah paling diyakini untuk menang menentang syaitan laknatullah? Ahli abid atau ahli ilmu? Tentulah yang bersenjata. Syaitan menipu abid dengan senjatanya iaitu segala yang boleh mengkhayal atau melekakan manusia; ianya ialah Kenikmatan dunia! itulah senjatanya. Oleh sebab itulah Allah swt mengingatkan manusia :
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabuut:64)
Usahlah tertipu dengan kenikmatan dunia. Manusia disuruh untuk menikmati nikmatnya dunia tetapi jangan sampai terhanyut oleh buaian ombak dunia. Malah diseru agar setia pada tauhid dan memelihara syariatnya.
Semoga, kita dihindari daripada termasuk di dalam golongan orang yang lupa kepada Allah swt.
Lumrahnya,
Manusia seringkala lupa,
Pada pegangan janji setia,
Ketika belum membuka mata,
Ketika belum mengenal benda,
Janji dikota setia pada yang Esa,
Namun lupa pabila berada di dunia,
Apabila harta dunia mengaburi mata
Halal haram disapu semata,
Pangkat dan jawatan yang dipinta,
Memenuhi perut diri sendiri saja,
Tidak ingatkah atau terlupa,
Dunia ini persinggahan sahaja,
Menanti ajal menjemput kita,
Entah bila masanya tiba,
Apabila mata layu tidak berdaya,
Mulut pun kunci tidak mampu berkata,
mulalah ingat pada yang Esa,
Hendak beramal badan tak berdaya,
Mungkin sudah sampainya masa,
Ajalnya menjemput ke alam baqa,
Harta, anak, isteri sudah tiada,
hanya amalan yang dibawa,
Sesungguhnya manusia mudah lupa!
Posted by ~Zukhruful Islam~ at 6:50 PTG 0 comments
Rabu, 22 Disember 2010
~انّ لله و انّ اليه راجعون~


Bismillahirrahmanirrahim....Assalamualaikum w.b.t...
sekadar sedikit perkongsian cerita yg ingin sy coretkan...
Semalam,selesai menimba ilmu di kelas Constitunional Law,sy berjalan pulang ke Mahallah bersama kawan2. Jam menunjukkan pukul 1.15 minit petang,azan zuhur mula berkumandang. Selesai azan dilaungkan,terdengar imam masjid UIAM membuat announcement:-
"Assalamualaikum..InsyaAllah after solat zuhur,we will perform solat janazah....etc."
Dalam hati mengucapkan innalillahiwainna ilaihiraaji'un...al-fatihah...dalam masa yg sama fikiran mula ligat berfikir. Masanya telah tiba,entah bila pula masaku akan menjelma. Terasa terlalu bnyk dosa2 yg telah aku lakukan di dunia namun tidak pula aku kembali kepada Yang Maha Pengampun. Allahuakbar...ampuni dosa2ku ya Allah.
Sehari berlalu...hari ini sy memulakan hari baru lagi. Jam 8.30 pagi, sy bersiap2 untuk ke majlis ilmu. Buku2 ku susun kemas di dlm beg. Sempat sy menikmati keindahan pagi di UIA,dengan pemandangan yg dihiasi dedaun hijau dan kelihatan masjid yg tersergam indah di tengah2 bangunan. Inilah salah satu sebab kenapa sy suka dgn bilik sekarang,sb blh nmpak masjid. Bila hati x tenang,selain berdoa,sy akan duduk di meja study,merenung Masjid yg sangat indah.
Sedang sibuk mnyiapkan diri, tiba2 terdengar suara imam dari masjid UIAM mengumumkan sesuatu. Pengumuman seperti yg kudengar semalam..innalillahiwainna ilaihiraaji'un...al-fatihah...sekali lagi hatiku beristighfar...astaghfirullahal'azim...seorang insan lagi sudah smpi masanya..bila lagi masaku akan tiba...kecut hatiku memikirkan kematian yang entah bila akan menjemputku.
Selesai kelas Islamic Criminal Law,sy dan kawan2 menuju ke center berhmapiran masjid. Kelihatan van jenazah di persekitaran masjid. Mungkin van jenazah pagi tadi kot. Pulang ke mahalaah, selesai memnunaikan solat zuhur, sy cuba melelapkan mata sekejap sambil mendengar lagu2 nasyid. Seraya mata yg hampir terlelap,mata dan hati sy terbuka luas apabila mendengarkan bait2 lagu nasyid ini...
Ku Merintih, Aku Menangis,
Ku Meratap, Aku Mengharap,
Ku Meminta Dihidupkan Semula,
Agar Dapat Kembali Ke Dunia Nyata,
Perjalanan Rohku,
Melengkapi Sebuah Kembara,
Singgah Di Rahim Bonda,
Sebelum Menjejak Ke Dunia,
Menanti Di Barzakh,
Sebelum Berangkat Ke Mahsyar,
Diperhitung Amalan,
Penentu Syurga Atau Sebaliknya,
Tanah Yang Basah Berwarna Merah,
Semerah Mawar Dan Jugak Rindu,
7 Langkah Pun Baru Berlalu,
Susai Talkin Penanda Syahdu,
Tenang Dan Damai Di Pusaraku,
Nisan Batu Menjadi Tugu,
Namun Tak Siapa Pun Tahu Resah Penantianku,
Terbangkitnya Aku Dari Sebuah Kematian,
Seakan Ku Dengari,
Tangis Mereka Yang Ku Tinggalkan,
Kehidupan Disini Bukan Suatu Khayalan
Tetapi Ia Sebenar Kejadian
Kembali Oh Kembli,
Kembalilah Kedalam Diri,
Sendirian Sendiri,
Sendiri Bertemankan Sepi,
Hanya Kain Putih Yang Membaluti Tubuhku,
Terbujur Dan Kaku,
Jasad Terbujur Didalam Keranda Kayu,
Ajal Yang Datang Dibuka Pintu ,
Tiada Siapa Yang Memberi Tahu,
Tiada Siapa Pun Dapat Hindari,
Tiada Siapa Yang Terkecuali,
Lemah Jemari Nafas Terhenti,
Tidak Tergambar Sakitnya Mati,
Cukup sekali Jasadku Untuk Mengulangi,
Jantung Berdenyut Kencang,
Menantikan Malaikat Datang,
Mengigil Ketakutan Gelap Pekat Dipandangan,
Selama Ini Diceritakan
Kini Aku Merasakan
Dialam Barzakh Jasad Dikebumikan
Ku Merintih, Aku Menangis,
Ku Meratap, Aku Mengharap,
Ku Meminta Dihidupkan Semula,
Agar Dapat Kembali Ke Dunia Nyata..
Serentak jantung berdegup kencang..Selesai lagu dimainkan,azan asar bergema dari masjid. Saya tersedar,terus mengucapkan ampunan,astaghfirullahal'azim...Allah banyak menunjukkan kekuasaanNYA kpda sy pada hari ini. Allah seakan2 ingin mengingatkan hambaNYA yg lalai ini bahawa mati akan datang pada bila2 masa sahaja...terima kasih ya Allah...hari ini sy rasakan hari yg cukup bermakna buat saya...hari yg baru bg sy...Ya Allah,terima kasih kerana menjadikan hariku hari yg sangat bererti...semoga hari esok adalah lebih baik untukku daripada hari ini...begitu juga hari2 seterusnya...amin Ya Rabb..solat asar perlu ditunaikan...:)
Posted by ~Zukhruful Islam~ at 6:05 PTG 0 comments
Khamis, 16 Disember 2010
~Buat Hati Yang Ketandusan Cinta~

Sabarlah duhai hati.
Tak perlu kau tagih cinta manusiawi yang bersifat sementara.
Ada cinta yang lebih kekal abadi buat dirimu.
Ada cinta yang bisa membuatkan kau mengalirkan airmata ketika hati merindui.
Ada cinta yang mampu memberikan ketenangan pada jiwamu ketika kamu dilanda keresahan.
Ada cinta yang boleh kau jadikan tempat merintih bila kesedihan datang menjenguk.
Ada cinta yang mampu memberikan apa sahaja yang kamu inginkan.
Namun, kadang-kadang cintamu itu pasti diuji.
Sekuat manakah cintamu pada-Nya, sehebat manakah kasih kamu pada-Nya.
Ujian datang dalam pelbagai cara.
Hatta sekecil-kecil perkara untuk menilai kesetiaanmu pada-Nya.
Andai kata kuat dan tetap hatimu pada-Nya, maka bergembiralah.
Jika hatimu goyah dan meragui kasih sayang-Nya selepas didatangkan ujian pada dirimu, maka sedarlah bahawa nilai cintamu disisi-Nya masih lemah.
Kembalilah pada cinta-Nya yang lebih agung dari kecintaanmu buat dunia dan isinya.
Sudah menjadi sunnah-Nya, setiap yang bergelar mukmin pasti akan diuji.
Dari ujian itulah, Dia mencari hamba-hamba-Nya yang benar-benar mendambakan keredhaan dari-Nya.
Apakah kau sanggup menghadapi segalaan ujian itu?
Namun, tidak ramai yang mahu mencari cinta yang kekal abadi ini kerana tidak mahu dilanda ujian-ujian ini.
Tidak ramai yang mahu mengeluarkan keringat hatta darah sekalipun untuk merasai manisnya cinta yang bertunjangkan kekuatan aqidah terhadap yang Khalid ini.
Maka sabarlah duhai hati.
Apabila telah kau rasakan manisnya cinta dari sang Pencipta,
maka tak perlu lagi kau kejar cinta manusiawi yang rata-ratanya berlandaskan nafsu semata.
Bila telah kau tetapkan hati untuk mencintai Tuhan sekalian alam, maka itulah sebenar-benarnya kecintaan yang sejati.
Dan dalam perjalanan menelusuri denai cintai terhadap-Nya yang sudah pasti disaluti onak dan duri,
akan didatangkan seorang yang turut sama mencintai-Nya sebagaimana dirimu juga.
Sebagai peneman dan yang akan menyempurnakan sebahagian daripada imanmu.
Yang padanya ada ketenangan dan kebahagiaan berpaksikan Tuhan yang Maha Satu.
Maka sabarlah duhai hati.
Tidak perlu kau gundah gulana andainya kau masih tidak berkasih dengan manusia.
Dia akan datang. Itu sudah pasti.
Namun datangnya tiada siapa yang tahu kecuali Dia sang Pencipta cinta itu.
Moga datangnya cinta insani itu, akan menguatkan lagi kecintaanmu buat sang Pencipta cinta itu sendiri.
Kerana jiwa yang sepi tanpa cinta dan kasih dari-Nya, adalah umpama padang pasir yang kegersangan.
Posted by ~Zukhruful Islam~ at 1:51 PTG 0 comments
Labels: Artikel iluvislam.com
Isnin, 13 Disember 2010
~Memikat Hati Si Dia~

"Ustaz, saya bakal melangsungkan perkahwinan Februari nanti. Harapnya, dapatlah saya dengar sedikit sebanyak nasihat dari ustaz sebagai bekal saya menempuh bahtera rumah tangga nanti," seorang sahabat dari seberang laut bertanyakan nasihat saya di suatu sore.
"Alahai Azman, awak pun tahukan, saya ni tunang pon tidak, macam mana nak jawab soal nikah kahwin ni..?" Saya menambah humor, menyempitkan jurang kami.
"Tak pernah pulak ustaz tak jawab kalau saya tanya sesuatu sebelum ni..?" Beliau menyoal saya semula.
"Kalau awak tanyakan pasal Fiqh Minoriti tentang rakan-rakan kita di Kutub Utara, mungkin ana boleh cuba jawab. Tapi, kalau soal rumah tangga ni, susah sikit untuk saya respon. Belum ada pengalaman!" Saya cuba mendekatkan lagi telinga dan hati beliau terhadap pesan saya selepas ini. Biar hati itu betul-betul terbuka luas untuk menerima, sebelum saya menyuapkan resepi agung untuk berumahtangga.
Bukan alim, bukan berpengalaman. Hanya berkongsi apa yang pernah saya baca dan jumpa. Berkawan dengan orang tua-tua menemukan saya silibus yang tak akan ditemui dalam bilik kuliah.
"Apa matlamat utama awak?" Saya cuba membuat tawaran.
"Saya nak membahagiakan isteri saya," jawab beliau ikhlas. Nada suaranya sudah berubah. Sesuai dengan topik yang sedang kami bincangkan. Langkah ini langkah susah dan payah. Langkah kedua untuk mendirikan ummah yang berpayungkan khilafah.
"Kalau macam tu, senang sahaja. Pikat hati si dia. Ikatkan dengan hati awak. Pastikan hidup mati awak bersama. Bercinta hingga ke syurga, bak kata Ustaz Hasrizal," saya cuba mempromosikan produk.
"Nak pikat macam mana tu..? Boleh dikongsikan sedikit..?" Nada suaranya semakin ghairah untuk dijamukan resepi saya. Inilah masanya, umpan sudah mengena.
"Pertama sekali, selepas awak dan dia sudah halal dengan terlafaznya 'aku terima nikahnya', kucup dahinya dalam-dalam. Kalau berpeluang, kucuplah matanya. Kemudian, ucapkan di telinga si dia yang awak sangat cintakan si dia. Tapi, jangan lupa untuk ucapkan juga syukur pada yang mengurniakan cintanya pada awak, ALLAH. Sujud syukur! Lepas itu, ucapkan juga terima kasih yang tidak terhingga kerana sudi menerima awak sebagai peneman hidup," saya sedikit bersungguh sewaktu bercerita.
"Aiwah, romantik pulak ustaz ni. Pasti cair hati isteri saya nanti," galak suaranya dengan sedikit ketawa di seberang talian sana.
"Lepas tu, kalau berpeluang, rancangkan bulan madu bersama isteri. Tak perlu belanja yang tinggi, cuma pastikan peluang itu peluang yang berkualiti. Selaraskan komunikasi, selaraskan denyut nadi dan serasikan matlamat serta tujuan hidup masing-masing. Bersedia untuk menerima kekurangan dan mengiktiraf kelebihan masing-masing. Bincangkan masa depan dan satukan imaginasi korang berdua."
"Sekali sekala, adakan surprise untuk si dia walau hanya sekuntum bunga. Kalau ada bajet yang lebih, mungkin boleh dibelikan sesuatu yang lebih berharga."
"Satu lagi, nafkah. Ini perkara penting yang telah digariskan dalam syariat kita. Jangan lewat untuk menunaikan kewajipan awak walau isteri awak ada kerjaya."
"Seterusnya, jangan lupa, bila awak terpaksa berpisah atau tinggalkan si dia sementara waktu, kucup dahi dan matanya sebelum tinggalkan rumah dan selalukanlah untuk utuskan kata-kata rindu supaya hatinya sentiasa subur dengan bunga-bunga cintanya terhadap awak. Pastikan kamu sentiasa menghubunginya setiap masa. Jangan terlewat walau sesaat cuma."
"Lebih penting, tunjukkan yang si dia lebih penting dari segala-galanya. Jangan pula awak liat untuk bertanyakan khabar kondisi si dia sedang dalam masa yang sama, awak saban hari memeriksa enjin dan kondisi Produa Myvi di depan tangga!" Sedikit humor saya selitkan dalam wasiat yang agak sinis ini. Lalu, sedikit gelakan dapat saya tangkap di hujung talian.
"Jangan lupa, bincangkan secara baik, jadual pulang berhari raya. Bimbang si dia terluka kalau tidak pulang ke rumah mertua. Jadi, jangan kedekut untuk korbankan kampung halaman untuk kebahagiaan si dia."
"Huih, banyak benar ye petua ustaz, macam pakar! Ayat pula power, macam dah bercucu tiga. Ada lagi ke ustaz? Saya dah makin bersemangat ni," Azman semakin bersemangat. Setiap patah perkataan saya dicerap sebaik-baiknya. Respon pula sentiasa ada dicelahan setiap nasihat dan idea.
"Ye, ada lagi. Mungkin ini yang paling istimewa. Bila dah ada cahaya mata nanti, cinta kamu akan terbahagi dua. Separuh untuk isteri dan separuh untuk anak-anak. So, jangan lupa untuk ungkapkan penghargaan yang tidak terhingga sepanjang tempoh hamil sehingga selepas bersalin. Ungkapan kita akan menjadi penguat semangat si dia untuk terus menempuh saat kritikal sepanjang tempoh hamil dan proses melahirkan bayi. Saya ada satu resepi rahsia," saya memancing lagi.
"Apa tu ustaz, tolonglah jangan rahsia, nanti rumah tangga saya kurang bahagia," usiknya sambil diselangi ketawa bahagia.
"Ok, resepi rahsianya, apabila anta sambut ulang tahun kelahiran anak-anak, hadiahkan juga cenderahati penghargaan kepada si dia yang berkorban 9 bulan mengandungkan anak-anak."
"Ada lagi ustaz?" Suaranya semakin galak.
"Habis. Setakat itu sahaja," saya memutuskan kata-kata. Titik noktah diletakkan di hujung bicara.
"Hai, saya tengah bersemangat ni... jantung pun tengah kencang berdegup, janganlah berhenti mengejut begitu ustaz. Nanti boleh jatuh strok saya jadinya." Selorohnya meminta perbualan kami diperpanjangkan lagi.
"Kalau awak strok, wasiatkan tunang awak untuk saya," saya berseloroh sambil ketawa bersahaja.
"Kalau awak masih sudi, masih ada resepi yang kurang menarik. Jarang orang suka mendengar resepi ini. Kalau awak betul-betul mahu, saya boleh sambung," nada suara saya mendatar.
"Boleh, saya sedia. Saya tahu, pasti akan ada manfaatnya," Azman masih bersemangat.
"Resepi ini bukan untuk memikat hati. Tapi untuk menghidupkan hati yang separuh mati. Mengesat air mata yang tak nampak alirannya. Meredakan pekikan suara hati yang tidak zahir bunyinya. Awak nak dengar ke?" Nada saya bertukar sedikit serius.
"Apa tu ustaz?" Nadanya kini berubah.
"Awak pernah kucup dahi ibu sendiri?" Tanya saya ringkas.
"Belum," ringkas juga jawapan Azman.
"Kucupi dahi ibu kamu sebelum kamu mengucup dahi isteri. Ibu itu yang berkorban 9 bulan mabuk, loya dan letih mengandungkan kita dan bersabung nyawa melahirkan kita. Mengasihi kita tanpa sebarang syarat ataupun mahar mahupun nafkah. Dahi ibu kita lebih layak untuk kita kucup sebelum kita kucup dahi isteri yang baru kita kenali beberapa bulan."
"Pernah awak berbulan madu dengan ibu? Berkongsi tujuan dan matlamat hidup dengan ibu? Bergurau senda dan bermanja-manja dengan ibu? Kalau belum, honeymoon dulu dengan ibu awak. Kelak nanti, hatinya tidak begitu remuk melihat bahagianya bulan madu kita bersama isteri dengan melupakan jasa ibu yang pernah meletakkan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan kita. Bahagianya honeymoon kita sehingga terlupa untuk menghubungi ibu anta di desa sana."
"Pernah awak berterima kasih pada ibu kerana melahirkan awak? Ibu yang sepanjang hidupnya menemani hidup awak? Kalau masih belum diungkapkan, segerakanlah ia sebelum awak berterima kasih kepada isteri yang sudi menjadi peneman hidup awak. Ibu tua itu lebih aula (utama) menerima ucapan itu."
"Pernah surprisekan ibu awak dengan sesuatu hadiah yang istimewa? Kalau belum, surprisekan dulu si ibu itu. Nescaya, hatinya kembali berbunga-bunga. Ibu itu pastinya sunyi bila kehilangan kita, anak kesayangannya."
"Sewaktu kita mengira belanja harian dan nafkah untuk isteri, fikirkan juga nafkah dan belanja untuk ibu kita yang tak bergaji di desa sana. Ibu itu telah membesarkan kita tanpa sebarang upah mahupun bayaran. Ye, duit yang kita akan kirimkan itu bukannya bayaran terhadap kasih sayang mereka, tapi ianya menjadi tanda yang kita juga masih mengingati malah menyayangi mereka."
"Man, saya yakin, mak awak sangat sunyi waktu ini. Saban detik, telinganya pasti ingin mendengar deringan dari seberang laut. Pasti matanya selalu menatap potret awak yang digantung atau yang terselit di celah dompet. Hubungilah ibu awak sekerap yang mungkin. Kalaupun tidak seminggu sekali, pastikan dalam sebulan, khabar awak sampai kepada mak yang jauh di kampung."
"Man, kalau dengan satu ibu dan satu ayah, kita sudah tidak mampu untuk memikat hati kedua-duanya, saya bimbang lebih banyak hati-hati yang akan terluka selepas kita mempunyai dua ibu dan dua ayah."
Gelak ketawa bertukar menjadi esak dan sendu. Nada Azman yang riang kini berubah ke sebaliknya. Saya menghentikan kalam seketika. Suasana hening seheningnya. Hanya sedikit gangguan dari gelombang talian yang seakan-akan turut terpengaruh dengan suasana.
"Saya tak berniat untuk menghancurkan impian bahagia awak. Tapi, saya yakin dengan sempurnanya plot ini, awak akan lebih berbahagia. Ummat ini akan lebih berbahagia."
"Saya yakin yang awak sudah maklum. Bait Muslim (keluarga Islam) tidak akan sempurna tanpa sempurnanya Individu Muslim. Bagitulah juga, Masyarakat Muslim tidak akan lahir dari Bait Muslim yang tempang. Khilafah tidak akan terbina dengan Masyarakat yang tidak stabil. Bersemangatlah, kitalah pemulanya. Saya yakin, tarbiah yang awak lalui telah menjadikan awak Fardul Muslim (individu Muslim) yang baik. Tinggal lagi, Allah akan mendidik awak untuk melahirkan Bait Muslim yang baik. Adikku Azman, inilah jalannya."
"Go home and love your family."
Jawapan Mother Teresa selepas ditanyakan tentang bagaimana untuk mempromosikan keamanan kepada dunia. Pertanyaan itu diajukan beliau menerima Hadiah Nobel Keamanan pada tahun 1979.
"Sebaik-baik kamu adalah oran yang paling baik hubungannya dengan ahli keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik untuk keluargaku." - Hadis
Pastikan perkahwinan kita membahagiakan sejuta hati. Memuaskan sejuta jiwa. Menghidupkan sejuta roh dan menyelamatkan sejuta ummah.
Mulailah dari diri kita. Dari rumah kita. Dari Isteri dan anak-anak kita. Dari masyarakat kita. Dari negeri kita. Dari negara kita. Moga payung khilafah akan menaungi kita kelak.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehinggalah mereka mengubah nasib mereka sendiri." - Al-Quran
Hasan Husaini, Darul Muttaqin, Mu'tah, Jordan
Posted by ~Zukhruful Islam~ at 2:36 PTG 0 comments
Labels: Artikel iluvislam.com



